Monday, 25 September 2017
[Obrolan Dapur] Berubah (Lagi)
Thursday, 23 June 2016
[Obrolan Dapur] Diet Kantong Plastik, Sebuah Pengamatan
Monday, 29 February 2016
[Obrolan Dapur] Diet Kantong Plastik
Untuk belanja bulanan, terkadang saya bawa kantong belanja sendiri, cuman sering lupanya daripada inget :p
Ada beberapa pengalaman yang berhubungan dengan belanja dan kantong plastik. Setiap kali belanja di minimarket (baik inisial A maupun I) kasir (hampir) selalu bertanya apakah saya mau kantong plastik atau tidak, bahkan jauh sebelum program ini dilaksanakan. Dilain pihak, ketika saya belanja bulanan di supermarket/ hypermarket saya jarang ditanya apakah mau pakai kantong plastik atau tidak, bahkan setelah program #DietKantongPlastik ini dijalankan.
Hari Minggu kemarin saya berbelanja di supermarket berinisial C, dari rumah saya sudah menyiapkan tas belanjaan. Singkat cerita, mengambil berbagai belanjaan yang saya perlukan, kemudian antri di kasir. Begitu keranjang belanjaan saya letakkan di meja kasir, petugas langsung mengambil kantong plastik dari tempatnya.
"Nggak usah mas, pakai ini saja." Kata saya sambil mengeluarkan tas belanjaan.
Petugas sambil tersenyum menerima tas belanja saya. Rupanya dia belum terbiasa dengan model tas belanjaan yang saya bawa, sehingga agak-agak kesulitan untuk menata belanjaannya. Akhirnya daripada kelamaan saya bantuin untuk menata. Berhubung belanjaan saya terdiri dari produk makanan kering dan makanan, maka produk non makanan dulu yang di proses dan di tata. Begitu giliran produk makanan, petugas berkata.
"Yang ini dimasukin kantong plastik aja ya pak?"
"Nggak usah, masih cukup koq." Kata saya.
Memang benar, masih cukup banyak ruang di tas belanjaan yang saya bawa, lagian produk makanan kering yang sudah terkemas plastik kemasan, saya rasa tidak perlu dibungkus ulang dengan kantong plastik.
Saya rasa petugas juga tidak sepenuhnya salah, sudah ketentuan dari perusahaan untuk memberikan "pelayanan maksimal" kepada pelanggan, dari dulu saya perhatikan belanja di supermarket manapun, jika belanjaannya terdiri dari produk makanan dan non makanan maka dipisahkan dalam dua kantong plastik yang berbeda. Lagi pula kantong plastik berlogo perusahaan, sehingga menjadi sarana promosi bagi supermarket bersangkutan.
Menurut hemat saya, saatnya kita untuk berubah, baik pembeli maupun penjual. Saya lihat kemarin masih ada beberapa pembeli yang tidak membawa tas belanjaan sendiri, walaupun belanja kurang dari 5 jenis tetap menggunakan kantong plastik dari supermarket yang bersangkutan. Sedangkan dari sisi penjual (terutama petugas kasir) harus menawari pelanggan mau menggunakan kantong plastik atau tidak sekaligus memberi tahu kalau penggunaan kantong plastik dari supermarket dikenakan biaya tambahan, sebagai edukasi terhadap pembeli. Dan... Rasanya harga kantong plastik perlu dinaikkan deh, kalau cuman Rp 2.00,- bakal banyak yang bakal menyepelekan.
Note to self: Ntar kalau belanja bulanan paling enggak bawa 2 tas belanjaan, satu buat produk makanan, satu lagi buat non makanan.
Wednesday, 10 July 2013
[Obrolan Dapur] Sepotong Kecil Surga Diatas Mangkuk
Tuesday, 25 June 2013
[Obrolan Dapur] Tentang Roti
Saturday, 22 June 2013
[Obrolan Dapur] Lomba Memasak Serba Tempe
![]() |
| Memasak bersama |
![]() |
| Tempe Bacem |
![]() |
| Perkedel Tempe |
![]() |
| Bestik Tempe |
![]() |
| Pepes Tempe |
![]() |
| Sate Tempe |
![]() |
| Burger Tempe |
![]() |
| Kroket Tempe |
![]() |
| Dadar Tempe |
![]() |
| Gulai Tempe |
![]() |
| Martabak tempe |
![]() |
| Martabak tempe |
![]() |
| Sate Tempe |
![]() |
| Burger Tempe |
Thursday, 30 May 2013
[Obrolan Dapur] Sebuah Sinetron Berjudul Master Chef Indonesia
Ketika Master Chef Indonesia (untuk berikutnya disingkat dengan MCI) musim ketiga tayang untuk pertama kalinya, harapan saya waktu itu hanya satu, semoga tidaklah se drama season sebelumnya, tapi apa daya, baru juga memasuki minggu ketiga penayangan, deramah sudah tersebar di segala penjuru dari awal sampai akhir.
Sesuai namanya Master Chef, kompetisi memasak untuk mencari seorang master (ahli) di bidang masak memasak, seharusnya fokus utama pada bagaimana mengolah dari bahan mentah hingga tertata cantik diatas piring siap untuk dihidangkan.
Tetapi yang saya amati, komentar-komentar dari para peserta lebih banyak mendapat porsi. Saya yakin sebagai peserta pasti memiliki rasa excitement yang besar setiap menghadapi tantangan baru, atau perasaan cemas dan khawatir ketika masuk preasure test, tapi apakah semua itu harus di blow up? Belum lagi saat penentuan pemenang suatu tantangan atau saat penentuan peserta yang tereliminasi yang sengaja di ulur-ulur, kalau perlu di beri jeda iklan, dan kemudian ada pesan sponsor "Moment ini dipersembahkan oleh...."
Hadeeeh....
Yang kemudian menjadi masalah adalah seberapa banyak bumbu bisa ditambahkan. Seperti halnya sebuah masakan, jika bumbu terlalu banyak maka masakan tersebut akan terasa tidak enak, demikian juga jika bumbunya kurang maka tidak enak pula. Masakan yang enak adalah masakan dengan bumbu yang pas. Tapi yang namanya ukuran pas bagi tiap orang berbeda-beda. Demikian juga "bumbu" yang pas untuk sebuah tayangan televisi itu berbeda pula.
Bagi saya bumbu yang ada pada tayangan MCI sudah terlalu kebanyakan. Sehingga kesan yang saya dapatkan ketika menonton MCI seolah-olah saya menonton sinetron, tapi bukan Alissa Subandono, Christian Sugiyono, Naysila Mirdad dan Dude Herlino yang menjadi bintangnya tapi Chef Degan, Chef Marinka, Chef Arnold beserta para peserta MCI yang membintangi sinetron ini.
Harapan saya MCI lebih memfokuskan pada peserta yang tengah mengolah masakan, bagaimana memotong bahan, mengolahnya dan kemudian menyajikannya, pun juga ketika salah satu chef memasak, sehingga penonton bukan hanya terhibur tapi juga bisa belajar dari tontonan ini. Jika boleh saya sarankan MCI bisa menjadikan tayangan Iron Chef dan TV Champion sebagai referensi.
Oh iya satu lagi, jangan lupakan MCI episode besok, dimana salah satu juri memaki peserta dengan "the F word".
Dunia dapur profesional (profesional kitchen) memang keras kata seorang teman, tapi bagaimanapun juga MCI adalah sebuah tayangan nasional, jika memang sang chef harus memaki peserta karena kesalahan yang dilakukannya sehingga keluarlah kata F tersebut, maka seharusnyalah bagian editing yang menghilangkan bagian tersebut (bukan hanya mem beeep kata F tersebut) dan bukannya menjadikan adegan tersebut sebagai promosi untuk episode berikutnya.
Saya sering menonton tayangan MCI sebagai salah satu media untuk menambah wawasan saya tentang dunia masak-memasak, tapi jika masih saja terlalu banyak drama seperti kemarin-kemarin, lama kelamaan jadi malas juga untuk menontonnya.
Monday, 20 May 2013
[Obrolan Dapur] Pecel Bongko
Tuesday, 30 April 2013
[Obrolan Dapur] Kuliner Ngangenin
Beberapa kali saya kedatangan teman dari luar kota, dan mencoba untuk menjadi tuan rumah yang baik dan benar saya pun membawa teman-teman saya tersebut untuk jalan-jalan di kota Solo dan menikmati kuliner yang ada. Dan masing-masing dari mereka mempunyai cerita tersendiri mengenai kuliner kota Solo.
Dan teman saya menambahkan
"Namanya nge hits yak."
Saya hanya ketawa ngakak mendengarnya.
Btw yang penasaran dengan kuliner ini, wajib datang ke Solo dan nyobain sendiri makanannya :D
Friday, 5 April 2013
[Obrolan Dapur] Kisah Tahu Aci
Pada jaman dahulu kala, saya pernah main ke rumah teman saya di Slawi dan disana saya disuguhi salah satu makanan khas daerah Slawi (dan sekitarnya) yaitu tahu aci. Makanan biasa yang bisa ditemui setiap harinya di daerah tersebut, tapi entah kenapa bikin nagih kalau saya bilang.
Hingga akhirnya ketika kemarin teman saya yang dari Tegal bilang
"Mas, aku mau main ke Solo, minta dibawain oleh-oleh apa?"
Tanpa berpikir panjang saya langsung berkata
"Bawain tahu aci aja deh."
Udah lama banget ndak makan tahu aci, rasanya udah kayak perempuan nyidam dah :))
Ketika akhirnya teman saya tiba di Solo, beneran dibawain tahu aci. Bayangan saya sih ya dibawain berapa biji gitu lah ya. Eh nggak taunya sampai dua besek (wadah makanan yang terbuat dari anyaman bambu). Udah gitu ternyata tahunya masih mentah dan adonan acinya dibungkus terpisah. Trus kalau di hitung-hitung jumlahnya ada 100 biji. Nah lho?
Saya suka (pake banget) dengan segala macem gorengan, apalagi tahu (segala macam jenis tahu dari tahu biasa, tahu isi sayuran, tahu bakso, dll, dll). Tapi kalau segitu banyaknya ya... gimana yah??? *garuk-garuk kepala*
Udah gitu orang rumah nggak seheboh saya dalam menghadapi serangan tahu aci ini *halah bahasanya*. Kemarin sempat juga goreng banyak trus dibawa ke sekolah buat dibagi ke temen-temen, tapi koq ya teteup aja masih ada banyak.
Ndak ada yang terlalu istimewa sebenarnya dari sebuah tahu aci. Hanya tahu biasa yang bertekstur kenyal (bukan yang bertekstur lembut) yang di oles dengan adonan aci dengan bumbu bawang, merica dan cincangan daun seledri serta daun bawang.
Tapi koq ya ngangenin yah???





7:58 am
Djaw!
































