Showing posts with label Obrolan Dapur. Show all posts
Showing posts with label Obrolan Dapur. Show all posts

Monday, 25 September 2017

[Obrolan Dapur] Berubah (Lagi)


Semangat pagi!!!!

Semoga masih ada yang ingat dengan blog saiah tercinta ini, walaupun udah lama pake banget tidak keurus -_-'

Ada beberapa perubahan yang saya lakukan berkenaan dengan blog ini, yang pertama adalah perubahan nama, dari Pawon Ndeso menjadi Duo Gembuls. Adapun alasan perubahan nama, yang pertama sering kali orang salah persepsi blog ini berhubungan dengan salah satu restoran (bernama sama), padahal sama sekali tidak ada hubungan sama sekali. Alasan kedua, dengan berjalannya waktu kebanyakan yang kami lakukan adalah kulineran alias jajan di luar, sudah jarang masak dan berhubung kegiatan kulinerannya dilakukan oleh dua orang, hence duo gembuls, as simple as that :D

Perubahan kedua adalah, mulai bulan lalu kami membuat akun instagram khusus untuk kuliner. Tema dan prinsip utamanya masih sama dengan blog, selain review juga ada resep, dan juga obrolan dapur yang berisikan tips, dan lain-lainnya. Jangan lupa follow duogembuls di intragram ya. 

Perubahan lain yang tak kalah pentingnya adalah, kami memindahkan blog ini, dari blogger/ blogspot ke wordpress. Salah satu kendala kenapa saya jarang posting di blog (selain karena males) adalah karena sulitnya untuk posting harus melalui komputer/laptop, dengan koneksi internet yang asoy digeboy kayak gini + laptop saya yang jadul malah jadi bikin stress, sementara kalau lewat aplikasi blogger di HP tampilannya jadi tidak menarik, kayak nulis di memo, serba terbatas, padahal sudah saya setting jenis hurufnya, alligment dll. Sementara kalau di wordpress saya lihat lebih baik, posting aplikasi di HP pun hasilnya juga bagus. Harapan saya, dengan pindah platform ini saya bisa kembali aktif menulis di blog, karena walaupun sudah ada instagram, tapi tetap saja rasanya beda antara blog dengan instagram. 

Terima kasih untuk teman-teman semua yang sudah mengikuti blog Pawon Ndeso/ Duo Gembuls selama ini, jika berkenan ikut pindah mengikuti rumah baru kami. Mohon maaf jika banyak kesalahan dan semoga apapun postingan yang kami tulis bermanfaat untuk teman-teman semuanya. 

Tada...

Thursday, 23 June 2016

[Obrolan Dapur] Diet Kantong Plastik, Sebuah Pengamatan

Sekitar 5 bulan yang lalu saya menulis mengenai program pemerintah yang saya sebut sebagai diet kantong plastik (artikelnya bisa dibaca disini). Dan setelah lima bulan berlalu, saya merasa perlu untuk menulis lagi mengenai subyek yang satu ini, bisa dikatakan sebagai sebuah evaluasi sederhana dari saya pribadi. 


Banyak hal menarik yang saya temui selama 5 bulan ini, secara sederhana saya bagi menjadi 2 sisi, dari sisi penjual (dalam hal ini toko modern) dan dari sisi pembeli. Dari sisi pembeli, seperti yang kita tahu (dan pernah saya singgung sedikit di tulisan saya sebelumnya), di awal pelaksanaan program ini, ada beberapa pihak yang merasa dirugikan, merasa tidak terima untuk mengeluarkan uang Rp 200,00 hanya untuk selembar kantong plastik. Namun dengan berjalannya waktu, sudah tidak ada lagi protes-protes tersebut. Dari pengamatan saya orang cenderung cuek, sebodo amat dengan peraturan tersebut. Hanya sedikit yang menyadari bahwa program ini dimaksudkan untuk mengurangi penggunaan kantong plastik, sehingga merelakan dirinya untuk membawa tas belanjaan sendiri, namun golongan ini amat sangat jarang saya temui (padahal saya bisa dikatakan sering main ke pasar modern/ supermarket nyari barang-barang murah, siapa tahu ada emas batangan yang kececer :D). 

Dua diantaranya yang saya temui membawa sendiri kantong belanjaannya, saya sertakan dalam tulisan ini. Entah kenapa excited saja ngeliatnya. Ada serombongan keluarga yang belanja banyak banget (keperluan bulanan sepertinya), ada juga koko-koko yang lagi belanja sendirian (nggak sempat ke foto soalnya dia di antrean depan, semenatara saya di ujung belakang), kemudian ada juga sepasang suami istri (?) yang juga tengah belanja. Pernah juga saya melihat seorang yang memakai seragam restoran tengah belanja di supermarket dengan membawa kantong belanjaannya sendiri (restorannya ada di foodcourt lantai atas mall, sementara supermarketnya terletak di ground floor)

Namun demikian, lebih banyak yang saya temui tidak membawa kantong belanjaannya sendiri, keluarga yang belanja banyak kebutuhan bulanannya, sampai menghabiskan entah berapa lembar kantong plastik dalam sekali belanjanya, padahal bisa saya dia minta kepada kasir untuk memasukkan belanjaannya kedalam kardus daripada kantong plastik, melihat jumlah belanjaannya, dan juga jumlah orang yang belanja saya yakin kalau mereka naik mobil bukan motor, jadi lebih enak kalau pakai kardus untuk wadah belanjaan mereka. Ada juga beberapa yang belanja sedikit (kurang dari 5 item, entah camilan atau yang lainnya) tetap membungkus belanjaannya dengan kantong dari supermarket :(

Cerita menarik lainnya adalah, suatu saat saya pernah ngeliat ekspatriat (bule) yang tengah belanja dengan istri dan anaknya, dan diluar dugaan saya, ternyata dia tidak membawa kantong belanjaannya sendiri, padahal setahu saya kesadaran lingkungan dari bule (terutama yang tinggal di Indonesia) itu lebih tinggi daripada orang lokal, tapi ternyata saya telah salah menduga :(

Selain itu saya pernah menemui keluargaha yang tengah belanja bulanan, selain berbagai macam kebutuhan harian, mereka juga membeli sebuah keranjang besar (entah keranjang pakaian kotor atau apa) dan meminta kasir untuk menata belanjaan mereka di dalam keranjang. Well... That's what I call sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui #Jempol4MajuSemua


Dari segi penjual (toko modern/ supermarket), saya juga melihat hal-hal menarik. Di awal program ini, kasir selalu menanyakan apakah mau pakai kantong plastik atau tidak sekaligus mengingatkan jika pakai kantong plastik akan kena tambahan charge sebesar Rp 200,00 (untuk kasir minimarket yang sepanjang ingatan saya bahkan sebelum adanya program ini selalu bertanya apakah mau pakai kantong plastik atau tidak). Pengecualian pada supermarket lokal (inisial L) yang ada di kota saya (Solo), kasirnya tidak pernah menanyakan kepada pembeli mengenai penggunaan kantong plastik, pembeli datang dengan belanjaan, melakukan scan harga, ambil kantong plastik, menata belanjaan di kantong plastik dan memlakukan proses billing.

Dengan berjalannya waktu, program ini ternyata menjadi beban bagi toko modern. Bukan hanya toko L yang tidak lagi menawarkan/menjelaskan kepada pelanggan mengenai penggunaan kantong, toko modern lainnya pun juga ikutan. Bahkan perkembangan terbaru yang saya temui, di supermarket berinisial H, saat saya bilang kepada kasir

"Mbak belanjaannya dimasukin sini saja." sambil mengulurkan kantong belanja yang saya bawa. 

Mbak kasir menjawab sambil tersenyum manis 

"Sekarang kantong plastik tidak berbayar koq pak."

Saya cuman bisa melongo. Sayangnya saya tidak menanyakan lebih lanjut, apakah ini kebijakan internal dari perusahaan, atau memang program pemerintah ini dihapuskan. Apapun itu alasannya seharusnyalah program diet kantong plastik ini diteruskan. Bahkan kalau bisa harga kantong plastiknya dinaikkan bukan hanya Rp 200,00 tapi Rp 5.000,00 atau bahkan Rp 10.000,00 sehingga pembeli akan lebih peduli untuk membawa sendiri kantong belanja dan pihak toko modern pun juga akan berpikir untuk menggratiskan (menanggung harga kantong plastiknya). 

Monday, 29 February 2016

[Obrolan Dapur] Diet Kantong Plastik

Setelah di sosialisasikan selama kurang lebih satu bulan, program pemerintah yang biasa kita kenal dengan istilah #DietKantongPlastik akhirnya dilaksanakan juga. Per tanggal 26 Februari 2016, efektif dikenakan biaya pembelian kantong plastik setiap kali kita belanja di supermarket atau pasar modern. Sebagai konsumen kita mempunyai pilihan membayar kantong plastik yang kita dapatkan atau kita membawa kantong/ wadah sendiri dari rumah. Sesederhana itu.

Tanggapan masyarakat pun beragam, walaupun kebanyakan menyambut positif, mendukung program pemerintah ini, namun ada juga yang tidak menyetujui. Jika anda aktif di media sosial, tentu anda pernah membaca nama seorang bapak berinisial JP, yang statusnya begitu banyak di sharing (termasuk screen capturenya). Entah apa yang ada di benak si bapak, gara-gara uang Rp 200,- untuk membayar kantong plastik memunculkan tuduhan pemerinta dzolim, dan bahkan memunculkan dukungan pemerintah khilafah. 

Tapi saya tidak akan ngomongkan si bapak, karena sampai tulisan ini diposting, masih banyak yang menganggapi/ mengulas (dengan panjang lebar) status si bapak. Well... Carry on :D


Selain status si bapak JS, yang ramai di sharing di media sosial adalah tutorial membuat tas belanjaan dari kaos/ T-Shirt. Cuman menurut saya, sayang yah kalau kaos dijadiin kantong belanjaan. Kalau kaosnya udah nggak bisa dipakai lagi karena rusak sih nggak apa-apa, tapi kalau hanya alasan kekecilan atau sudah bosan mending dikasihkan ke orang lain deh. Lagian ruang simpan di dalam kaos tidak seberapa besar untuk menampung belanjaan. Daripada merusak kaos, mending pakai tas kain seperti gambar diatas, nggak harus beli juga, karena banyak yang menggunakannya sebagai goodie bag. Tas-tas kain tersebut saya dapatkan sebagai pembungkus, ada yang saya dapatkan dari rumah sakit, sekolahan, tetangga/sodara yang punya hajatan, dsb.

Kalau anda pengen berkreasi sendiri mending bikin tas dari barang-barang bekas di sekeliling anda, banyak tutorial di internet, tinggal pilih salah satu yang sesuai dengan kondisi anda. Atau jika anda mempunyai ketrampilan merajut, anda bisa membuat tas belanja seperti pada contoh diatas (Tutorialnya bisa dibaca disini).

Secara pribadi, saya sendiri sudah berusaha untuk diet kantong plastik dari dulu. Terutama setiap "belanja" di minimarket, kalau sekedar camilan, minum atau jumlahnya tidak terlalu banyak saya suka menolak kalau ditawari kantong plastik sama mbak-mbak kasir. Alasannya sederhana saja sih, kebanyakan plastik bikin ribet :D

Untuk belanja bulanan, terkadang saya bawa kantong belanja sendiri, cuman sering lupanya daripada inget :p

Ada beberapa pengalaman yang berhubungan dengan belanja dan kantong plastik. Setiap kali belanja di minimarket (baik inisial A maupun I) kasir (hampir) selalu bertanya apakah saya mau kantong plastik atau tidak, bahkan jauh sebelum program ini dilaksanakan. Dilain pihak, ketika saya belanja bulanan di supermarket/ hypermarket saya jarang ditanya apakah mau pakai kantong plastik atau tidak, bahkan setelah program #DietKantongPlastik ini dijalankan.

Hari Minggu kemarin saya berbelanja di supermarket berinisial C, dari rumah saya sudah menyiapkan tas belanjaan. Singkat cerita, mengambil berbagai belanjaan yang saya perlukan, kemudian antri di kasir. Begitu keranjang belanjaan saya letakkan di meja kasir, petugas langsung mengambil kantong plastik dari tempatnya.

"Nggak usah mas, pakai ini saja." Kata saya sambil mengeluarkan tas belanjaan.

Petugas sambil tersenyum menerima tas belanja saya. Rupanya dia belum terbiasa dengan model tas belanjaan yang saya bawa, sehingga agak-agak kesulitan untuk menata belanjaannya. Akhirnya daripada kelamaan saya bantuin untuk menata. Berhubung belanjaan saya terdiri dari produk makanan kering dan makanan, maka produk non makanan dulu yang di proses dan di tata. Begitu giliran produk makanan, petugas berkata.

"Yang ini dimasukin kantong plastik aja ya pak?"

"Nggak usah, masih cukup koq." Kata saya.

Memang benar, masih cukup banyak ruang di tas belanjaan yang saya bawa, lagian produk makanan kering yang sudah terkemas plastik kemasan, saya rasa tidak perlu dibungkus ulang dengan kantong plastik.

Saya rasa petugas juga tidak sepenuhnya salah, sudah ketentuan dari perusahaan untuk memberikan "pelayanan maksimal" kepada pelanggan, dari dulu saya perhatikan belanja di supermarket manapun, jika belanjaannya terdiri dari produk makanan dan non makanan maka dipisahkan dalam dua kantong plastik yang berbeda. Lagi pula kantong plastik berlogo perusahaan, sehingga menjadi sarana promosi bagi supermarket bersangkutan.

Menurut hemat saya, saatnya kita untuk berubah, baik pembeli maupun penjual. Saya lihat kemarin masih ada beberapa pembeli yang tidak membawa tas belanjaan sendiri, walaupun belanja kurang dari 5 jenis tetap menggunakan kantong plastik dari supermarket yang bersangkutan. Sedangkan dari sisi penjual (terutama petugas kasir) harus menawari pelanggan mau menggunakan kantong plastik atau tidak sekaligus memberi tahu kalau penggunaan kantong plastik dari supermarket dikenakan biaya tambahan, sebagai edukasi terhadap pembeli. Dan... Rasanya harga kantong plastik perlu dinaikkan deh, kalau cuman Rp 2.00,- bakal banyak yang bakal menyepelekan.

Note to self: Ntar kalau belanja bulanan paling enggak bawa 2 tas belanjaan, satu buat produk makanan, satu lagi buat non makanan.

Wednesday, 10 July 2013

[Obrolan Dapur] Sepotong Kecil Surga Diatas Mangkuk

Akhir pekan kemarin, saya berkesempatan untuk menikmati kota Jogjakarta bersama kawan-kawan, dan seperti biasa yang namanya jalan-jalan tentu saja tidak bisa lepas dari wisata kuliner. Berikut ini adalah pengalaman saya ber wisata kuliner selama di Jogja. Namun demikian postingan ini menurut saya lebih pas masuk ke obrolan dapur daripada review, so here goes the stories

Sepotong Kecil Surga Diatas Mangkuk


Selesai menikmati Jogja Fashion Week, kami berdelapan melanjutkan "petualangan" kami dengan makan malam, kali ini pilihan jatuh kepada "Wedangan Pendopo", sebuah tempat makan yang berada di sekitar keraton Jogjakarta. Seperti namanya, tempat makan ini berupa pendopo rumah tua dengan arsitektur Jawa kuno. Walaupun cuma pendopo, tapi ruangannya cukup luas juga. Yah... Kalau cuman mau futsal mah cukup lah :D

Ketika kami memasuki tempat makan ini, pandangan saya langsung tertumbuk pada gerobak di depan pendopo, yang menjual mie serta nasi goreng. Ketika teman-teman yang lain sibuk memilih aneka makanan di meja saji, saya lebih memilih untuk memesan seporsi mie kuah.

Agak lama juga menunggu, but it really is worth it. Semangkuk mie dan bihun dengan kuah berwarna putih diserta sayuran kol dan sawi serta suwiran ayam dan potongan ati ampela dengan taburan bawang goreng terhidang panas di hadapan saya.

And oh my God, I'm in heaven! Dari suapan pertama, saya merasakan rasa yang lembut dari kuahnya, perpaduan bumbu-bumbu yang pas menghasilkan masakan yang amat sangat menyenangkan untuk dinikmati, terlebih saat malam nan dingin. One of the best 30 minutes of my life, saya menikmati suguhan ini hingga hampir tak tersisa.


Cenil Nan Centil




Cenil adalah kudapan khas dari Jawa Tengah dan Jogjakarta, Cenil bisa dengan mudah kita temui di pasar tradisional atau dijajakan di pinggir jalan. Tapiii... Karena saya udah lama tidak blusukan ke pasar, maka sudah lama pula saya tidak menikmati kudapan yang satu ini. Untungnya ketika saya sampai, teman saya habis beli cenil, well... Ini yang namanya pucuk dicinta ulam tiba :D

Cenil terbuat dari tepung kanji warna-warni, berbentuk bulat lonjong (mirip telur ikan) yang direbus kemudian disajikan dengan parutan kelapa dan taburan gula halus. Di penjual jajan pasar pinggir jalan/pasar, cenil terkadang disajikan dengan makanan lain semisal ketan hitam, klepon ataupun yang lainnya (tergantung dari permintaan kita). 

Mentho Bukan Lentho

Jujur saja saya jarang atau bahkan baru pertama kali ini menemukan jajanan yang satu ini, dan sewaktu pertama kali saya melihat makanan ini terbungkus rapi di dalam daun saya pikir ini adalah bebongko pisang. Namun kemudian ibu penjual menjelaskan kepada saya bahwa makanan ini adalah mentho. Mentho merupakan kudapan khas yang bisa kita temui di kota Jogja maupun Solo.

mentho terbuat dari adonan tepung beras yang berisi cincangan daging ayam, disiram santan dan kemudian dibungkus daun pisang untuk kemudian dikukus sampai matang. Rasa dari kudapan ini adalah perpaduan dari gurihnya isian daging ayam dengan manisnya santan, paling cocok untuk teman minum teh/ kopi di pagi atau sore hari.

Oh iya, lentho sendiri merupakan camilan berupa gorengan yang berisi kacang tholo, ada yang menggunakan campuran tepung kanji dan terigu ada juga yang menggunakan parutan singkong (kapan-kapan saya posting tentang makanan ini deh).


Bagel: Perjuangan Untuk Makan


Saya pernah punya pengalaman tidak menyenangkan saat sarapan di hotel tempat kami menginap, rasa masakan tradisionalnya, far from my expectation. Mungkin karena di sesuaikan dengan lidah bule sehingga tidak sesuai dengan lidah saya yang suka masakan yang penuh dengan bumbu. Pada kesempatan berikutnya, ketika sarapan saya lebih memilih makanan bule seperti roti dan sebagainya. 

Pas lagi memilih makanan yang hendak di comot, perhatian saya tertumbuk pada roti yang bentuknya mirip donat dengan ukuran yang lebih besar dan (kelihatan) lebih keras. It was bagel yang saya ambil. Si mbak yang melayani cuman bengong ngeliat saya nggambil bagel, kali-kali aja dia berpikir "Seriously bapak mau makan itu?" :p

Daaaan... ternyata, bukan hanya terlihat keras, tapi emang rotinya keras, pake banget. Susah buat motongnya, pun demikian juga buat makannya, bener-bener perjuangan deh buat makan makanan yang satu ini. 

Selain keras, roti satu ini juga mengenyangkan, pake banget lagi. Satu roti saja kenyangnya bisa tahan sampai sore. 

Oh iya, ini dia tampilan dari bagel utuh, lucu yah bentuknya? :D



Creepy Restaurant

Tempat makan lain yang kami samperin adalah Warung Makan Raminten di daerah Jalan Kaliurang. Tempat makan ini bergaya tradisional jawa, dengan berbagai macam hiasan (patung, ukiran, lukisan) yang sangat Jawa. Furnitur nya pun juga mengesankan Jawa.



Makanan disini kebanyakan makanan tradisional rumahan. Plecing kangkungnya enak walaupun sedikit over cook, tumis terongnya menyenangkan walaupun agak aneh karena banyak kuahnya (baru kali ini ngeliat masakan tumis berkuah, banyak pula). Gurame gorengnya bikin tak berhenti buat mengunyah, walaupun teman-teman bilang kurang garing. Untuk makanan penutup ada es krim bakar, perpaduan antara es krim dengan roti bakar isi coklat, yang bikin rebutan sama si bos kecil :))

Untuk minumnya bisa tuh nyobain wedang sereh, perpaduan antara sereh, jahe dan gula jawa yang disajikan di gelas tinggi. Jangan khawatir dengan tampilan gelas raksasanya, karena isinya juga nggak seberapa, nggak sampai 2x gelas reguler.

Oh iya, kalau makan disini harus sabar karena pelayanannya lumayan lama, bahkan di beberapa tempat di sekitar restoran terdapat "pengumuman" yang kurang lebih isinya mohon untuk bersabar kalau menunggu lama karena pelayan disana orang bodoh.

Gudeg Mercon Yang Tidak Meledak


Gudeg mercon merupakan salah satu varian kuliner di Jogjakarta. Gudeg Jogja terbuat dari buah nangka muda yang mempunyai rasa yang manis, dan tambahan tumisan cabe yang pedasnya ampun-ampunan membuatnya menjadi mercon yang akan "meledak" di mulut. 

Berhubung perut saya udah nggak bisa menerima makanan yang super pedas, maka saya pilih yang aman-aman saya, gudeg tanpa mercon. Kalau menurut saya rasa gudegnya enak, tidaklah terlalu manis seperti gudeg ala Jogja kebanyakan, tidak ada tambahan sambal goreng seperti biasanya, hanya nasi, gudeg dan daging ayam (mungkin karena saya pesan gudeg tanpa mercon kali yak?).

After all, belinya dibungkus buat dimakan di hotel dan saya nggak ikut ke tempat yang jual, yang katanya sampai tersasar ke ujung Jogja - And thank goodness I'm not joining the hunting :))

Tuesday, 25 June 2013

[Obrolan Dapur] Tentang Roti



Foto diatas adalah roti yang saya buat kemarin. Apakah anda bisa melihat sesuatu yang "aneh" pada roti tersebut? Bukan... Roti tersebut tidak berisi alien yang bisa bergerak sendiri :))

Ceritanya kemarin saya mencoba bereksperimen dengan adonan roti, baik untuk bahan, takaran serta cara pembuatannya.

Sebelum saya bercerita tentang roti yang kemarin saya buat, saya akan sedikit bergossip tentang roti yang biasa kita temui di toko. Kalau kita perhatikan ada dua macam roti yang tersedia di pasaran, yaitu roti yang bertekstur lembut dan bertekstur keras. Roti bertekstur keras biasa kita temui pada produk roti buatan Eropa (French toast/ roti tongkat salah satunya). 

Ada banyak hal yang menyebabkan tekstur roti berbeda-beda. Salah satu diantaranya adalah dari bahan-bahan yang di gunakan. Sering kali kita menemukan pada resep roti manis dicantumkan bahan susu, telur dan juga terigu berprotein tinggi. Kandungan protein yang ada pada bahan-bahan tersebut lah yang menyebabkan lembut tidaknya roti yang dihasilkan nantinya. Selain itu juga jumlah cairan dan juga lemak (mentega atau butter) yang ditambahkan jika cairan dan lemak yang ditambahkan kurang, maka hasilnya roti akan keras. 

Sekarang tentang roti yang saya buat kemarin. Eksperimen yang saya lakukan kemarin adalah saya tidak menggunakan baik susu maupun telur pada resep, sedangkan terigu yang saya gunakan kemarin adalah terigu biasa. Terigu untuk roti biasa disebut terigu Cakra (mengacu pada merek sebenarnya, sedangkan terigu biasa sering juga disebut terigu segitiga (sekali lagi mengacu pada merek).

Satu lagi eksperimen yang saya lakukan adalah, saya tidak menggunakan ragi instant (fermipan untuk mengembangkan adonan). Nah lho... Terus gimana caranya adonannya bisa mengembang. Saya menggunakan sedikit adonan Bakpao Panggang (yang belum dimasak tentu saja) sebagai pengembangnya. FYI ragi instant/fermipan merupakan bibit jamur dan adonan merupakan media bagi jamur untuk berkembang.

Oh iya, saya dapat idenya gegara keinget dulu pernah liat atau baca dimana gitu mengenai sebuah toko roti yang menggunakan cara seperti itu sejak puluhan tahun lalu.

Kembali ke roti saya. Setelah semua bahan diuleni menjadi sebuah adonan yang kalis, saatnya untuk di diamkan/ ditenangkan agar jamur tumbuh dan adonan mengembang. Berbeda dengan apabila kita menggunakan ragi instant, waktu yang diperlukan untuk adonan mengembang dengan cara yang saya pakai kemarin relatif lebih lama.

Kalau menggunakan ragi instant cukup diistirakatkan selama 30 - 60 menit, kalau adonan kemarin 60 menit adonan masih anteng, belum ada mengembang-mengembangnya. 

Daaan... Celakanya saya kelupaan dengan adonan ini, karena sibuk ngerjain yang lainnya, saya baru nyadar dengan keberadaan adonan tersebut yang tergeletak pasrah diatas kulkas pukul 10 malam, saya membuatnya sekitar pukul 3 sore. 

Adonannya sudah mengembang 2x lipat (bahkan lebih). Ketika saya kempiskan dan diuleni lagi, adonannya tidaklah sekalis adonan yang kemarin (kurang elastis kalau saya bilang). Adonan tersebut saya bagi menjadi beberapa bagian untuk kemudian saya masukkan kedalam cetakan dan kemudian diistirahatkan untuk yang kedua kalinya sebelum saya panggang.

Adonan saya istirahatkan selama hampir 30 menit, adonannya bisa mengembang namun tidak seperti yang saya harapkan. Biasanya waktu istirahat yang kedua ini cukup 5 sampai 10 menit. 

Selama proses memanggang saya lihat, rotinya mengembangnya tidak sebagus roti di pasaran, tidak mulus dan ada retakan-retakan (terutama dibagian pinggirnya). Ngerasa agak-agak aneh juga ngeliatnya sih. 

Kurang lebih 30 menit dipanggang, akhirnya rotinya matang juga (oh iya, saya pakai oven kompor yang bentuknya kotak kayak brangkas itu). Daaaan.... Hasilnya keras sodara-sodara. Nyengir-nyegir dah ngeliatnya :))

Kesimpulan
Membuat roti tidaklah semudah yang dibayangkan, ada banyak hal yang harus diperhatikan.  Terutama ketelatenan, ketepatan takaran bahan dan ketepatan waktu dalam mengistirahatkan adonan dan memanggang.

Oh iya, it's fun koq buat bereksperimen, walaupun nanti hasilnya tidak seperti yang kita harapkan atau bayangkan. Jangan takut mencoba, karena banyak masakan yang sekarang ini terkenal berawal dari coba-coba. 

Terakhir, walaupun bentuknya aneh, mirip permukaan planet Mars, tapi untuk rasanya tetep enak koq (agak-agak sedikit lebih asin karena terlalu lama di istirahatkan)

Saturday, 22 June 2013

[Obrolan Dapur] Lomba Memasak Serba Tempe

Dari Senin sampai dengan Kamis kemarin sekolah rame dengan kegiatan class meeting, berbagai macam lomba diadakan untuk anak-anak semunya. Khusus untuk hari Kamis kemarin (20/6/2013) kemarin adalah lomba memasak. Untuk pesertanya seluruh siswa baik putra maupun putri.
Memasak bersama

Tema lomba nya adalah masakan serba tempe. Tidak disangka dan tidak di duga, walaupun kemarin-kemarinnya mereka sempat mengeluh (tentang iuran, pembagian tugas, peralatan masak yang harus dibawa, dan sebagainya), namun pada saat pelaksanaan anak-anak antusias sekali.
Tempe Bacem

Kegiatan lomba diadakan di halaman kelas, dari sekian peserta lomba, hanya 2 kelompok yang membawa kompor gas, lainnya membawa kompor minyak dan bahkan ada yang memasak menggunakan tungku kayu (batu bata dan kayu diperoleh dari seputaran halaman sekolah).
Perkedel Tempe

Sempat saya menengok sejenak ketika anak-anak tengah memasak. Ada kelompok yang sudah selesai memasak dan tengah mengatur penyajian. Ada juga yang masih sibuk dengan masakannya, sibuk dengan api yang padam melulu, ada juga yang malah berdebat dengan sesama kelompok gara-gara masakan. Yah namanya juga anak-anak :))

Bestik Tempe

Kelar memasak dan anak-anak sudah menyiapkan masakan mereka, saatnya untuk penilaian. Daaan... Ternyata jurinya adalah semua guru yang ada di sekolahan saat itu (termasuk saya). Ini adalah hukum kebetulan yang menyenangkan. Kebetulan pas laper, kebetulan pas diajak mencicipi masakan anak-anak.
Pepes Tempe
Anak-anak cukup kreatif dalam menyajikan masakan mereka, walaupun beberapa ada yang terlalu banyak hiasannya sehingga terlalu meriah (menurut saya lho ya, silahkan anda menilai sendiri dari foto-foto yang ada). Untuk jenis masakannya bervariasi, tiap kelompok diberikan resep masakan yang berbeda. Untuk rasa? Namanya juga anak-anak yang, saya rasa banyak diantara mereka yang tidak pernah membantu ibunya memasak di rumah (terutama yang laki-laki). Namun secara keseluruhan cukup enak, tidak ada yang ancur-ancur banget lah :p

 Dari segi penampilan, ini dia favorit saya, sederhana dan rapi
Sate Tempe

Burger Tempe

Kroket Tempe
Kalau yang ini makanan yang bikin bingung, namanya dadar tempe tapi bentuknya seperti perkedel, untuk rasa lumayan lah...

Dadar Tempe
  
Dan ini masakan-masakan yang lainnya:

Gulai Tempe

Martabak tempe

Martabak tempe

Sate Tempe

Burger Tempe
Mana pilihan anda?

Thursday, 30 May 2013

[Obrolan Dapur] Sebuah Sinetron Berjudul Master Chef Indonesia


Ketika Master Chef Indonesia (untuk berikutnya disingkat dengan MCI) musim ketiga tayang untuk pertama kalinya, harapan saya waktu itu hanya satu, semoga tidaklah se drama season sebelumnya, tapi apa daya, baru juga memasuki minggu ketiga penayangan, deramah sudah tersebar di segala penjuru dari awal sampai akhir.

Sesuai namanya Master Chef, kompetisi memasak untuk mencari seorang master (ahli) di bidang masak memasak, seharusnya fokus utama pada bagaimana mengolah dari bahan mentah hingga tertata cantik diatas piring siap untuk dihidangkan. 

Tetapi yang saya amati, komentar-komentar dari para peserta lebih banyak mendapat porsi. Saya yakin sebagai peserta pasti memiliki rasa excitement yang besar setiap menghadapi tantangan baru, atau perasaan cemas dan khawatir ketika masuk preasure test, tapi apakah semua itu harus di blow up? Belum lagi saat penentuan pemenang suatu tantangan atau saat penentuan peserta yang tereliminasi yang sengaja di ulur-ulur, kalau perlu di beri jeda iklan, dan kemudian ada pesan sponsor "Moment ini dipersembahkan oleh...."

Hadeeeh....

Saya tahu bahwa, bagaimanapun juga MCI adalah sebuah tayangan televisi komersial, bukan sebuah film dokumenter. Tayangan ini membutuhkan sponsor untuk mendapatkan keuntungan, dan sponsor akan datang jika ratingnya tinggi, rating tinggi jika banyak yang menonton. Dan salah satu cara meningkatkan rating adalah dengan memberikan "bumbu-bumbu" yang salah satunya adalah "bumbu drama". 

Yang kemudian menjadi masalah adalah seberapa banyak bumbu bisa ditambahkan. Seperti halnya sebuah masakan, jika bumbu terlalu banyak maka masakan tersebut akan terasa tidak enak, demikian juga jika bumbunya kurang maka tidak enak pula. Masakan yang enak adalah masakan dengan bumbu yang pas. Tapi yang namanya ukuran pas bagi tiap orang berbeda-beda. Demikian juga "bumbu" yang pas untuk sebuah tayangan televisi itu berbeda pula.

Bagi saya bumbu yang ada pada tayangan MCI sudah terlalu kebanyakan. Sehingga kesan yang saya dapatkan ketika menonton MCI seolah-olah saya menonton sinetron, tapi bukan Alissa Subandono, Christian Sugiyono, Naysila Mirdad dan Dude Herlino yang menjadi bintangnya tapi Chef Degan, Chef Marinka, Chef Arnold beserta para peserta MCI yang membintangi sinetron ini.

Harapan saya MCI lebih memfokuskan pada peserta yang tengah mengolah masakan, bagaimana memotong bahan, mengolahnya dan kemudian menyajikannya, pun juga ketika salah satu chef memasak, sehingga penonton bukan hanya terhibur tapi juga bisa belajar dari tontonan ini. Jika boleh saya sarankan MCI bisa menjadikan tayangan Iron Chef dan TV Champion sebagai referensi.

Oh iya satu lagi, jangan lupakan MCI episode besok, dimana salah satu juri memaki peserta dengan "the F word". 

Dunia dapur profesional (profesional kitchen) memang keras kata seorang teman, tapi bagaimanapun juga MCI adalah sebuah tayangan nasional, jika memang sang chef harus memaki peserta karena kesalahan yang dilakukannya sehingga keluarlah kata F tersebut, maka seharusnyalah bagian editing yang menghilangkan bagian tersebut (bukan hanya mem beeep kata F tersebut) dan bukannya menjadikan adegan tersebut sebagai promosi untuk episode berikutnya.

Saya sering menonton tayangan MCI sebagai salah satu media untuk menambah wawasan saya tentang dunia masak-memasak, tapi jika masih saja terlalu banyak drama seperti kemarin-kemarin, lama kelamaan jadi malas juga untuk menontonnya. 

Sumber gambar: wikipedia

Monday, 20 May 2013

[Obrolan Dapur] Pecel Bongko


Pas lagi bebersih hardisk komputer, secara tidak sengaja menemukan foto ini. Ada yang tahu ini foto apaan?

Yaiyalah... Ini foto makanan, bukan foto nuklir :p

Foto ini adalah makanan bernama Pecel Bongko. Nah lho? Apa pula itu?

Pecel Bongko adalah makanan khas Jawa (terutama banyak di temui di kota Solo). Makanan ini sebenarnya perpaduan antara dua makanan, yaitu Pecel dan Bongko. Pecel, saya rasa sudah banyak mengetahui masakan berupa sayuran yang direbus kemudian disiram saus kacang pedas. Sementara untuk Bongko sendiri mungkin banyak yang belum tahu makanan yang satu ini.

Bongko merupakan makanan yang terbuat dari biji kacang panjang kering (biasa disebut kacang tholo dalam bahasa Jawa) yang sudah direbus, dicampur dengan parutan kelapa yang cukup muda beserta bumbu-bumbu yang dibungkus daun pisang kemudian di kukus sampai matang.

Rasa dari Bongko sendiri cenderung manis (seperti kebanyakan makanan Jawa pada umumnya) terpadu dengan gurihnya kelapa. 

Perpaduan antara masakan Pecel dan juga Bongko menimbulkan sensasi rasa yang berbeda. Rasa manis dan gurih dari Bongko terpadu dengan rasa pedas dan gurih dari sambel kacang, cocok sebagai makanan pembuka ataupun camilan.

Pecel Bongko sendiri agak susah untuk dicari, bisa di temui di pasar-pasar tradisional atau penjual makanan kecil keliling yang biasa disebut tenongan. Harga yang di pathok pun tidak mahal sekitar Rp 2.000,- untuk seporsi Pecel Bongko (1 porsi biasanya terdiri dari 2 bungkus kecil, 1 bungkusan berisi pecel dan 1 bungkusan berisi bongko).

Jika anda datang ke Solo, cobalah untuk hunting masakan yang satu ini, Dijamin pasti nagih :D

Tuesday, 30 April 2013

[Obrolan Dapur] Kuliner Ngangenin


Beberapa kali saya kedatangan teman dari luar kota, dan mencoba untuk menjadi tuan rumah yang baik dan benar saya pun membawa teman-teman saya tersebut untuk jalan-jalan di kota Solo dan menikmati kuliner yang ada. Dan masing-masing dari mereka mempunyai cerita tersendiri mengenai kuliner kota Solo.

Yang membuat saya tercengang adalah ternyata yang mereka sukai dan bikin kangen bukan kuliner mewah dan atau berharga mahal, tapi justru kuliner-kuliner sederhana kaki lima. 

Beberapa waktu lalu ngobrol dengan seorang teman yang tinggal di Jogja, dia berkata

"Mas... Aku kangen wedangan di Solo." 

"Lha? Bukannya di Jogja juga ada angkringan?" Kata saya

"Iya, tapi beda..." Katanya lagi.

Iya sih, memang ada beberapa perbedaan antara angkringan Jogja dengan wedangan Solo, tapi perbedaannya juga tidak terlalu signifikan (halah bahasanya). Kemudian saya bertanya lagi.

"Emang yang kamu sukai apa dari wedangan?"

"Aku suka sama nasi oseng-osengnya."

Lha? Padahal menurut saya biasa aja, nasi dengan oseng-oseng (tumisan) sayur kacang panjang tidak ada yang terlalu istimewa sebenarnya (ndak yang maknyus ataupun nendang, lazis atau apalah itu namanya). Tapi entahlah, mungkin kesederhanaan dari nasi oseng-oseng itu yang bikin kangen.

Teman saya yang satu lagi, habis muter-muter kota, berhubung dia udah kenyang maka saya ajaklah ke wedangan untuk sekedar minum. Dia sempat pesen sate kulit ayam, setelah di bakar,

"Asin banget satenya." komentar dia sambil mengernyitkan dahinya. Pun demikian habis juga dua tusuk sate kulit dia lahap :))

Lucunya ketika dia udah kembali ke rumahnya, dan kita ngobrol lewat WA, dia bilang

"Aku kangen sama sate kulitnya Solo."

"Di tukang sate kan ada tuh dijual." Kata saya kepada si temen ini.

"Tapi beda, lagian males harus ke tukang sate ayam." Katanya lagi.

"Jyaaah... Katanya keasinan." kata saya sambil pasang emot orang ketawa.

"Iya sih... Tapi enak"

Dan saya cuman bisa ketawa ngakak membacanya.

Cerita berikutnya agak berbeda, teman saya yang satu ini udah sering main ke Solo, agak-agak bingung juga ketika dia minta dianter wisata kuliner. Sambil muter otak, saya pun bertanya,

"Udah pernah nyobain bestik lidah belum?"

"Belum." Jawabnya

"Yaudah kita nyobain itu."

Saya ajak dia ke salah satu warung bestik yang terletak di dekat Masjid Raya Fatimah. Nah disana ternyata ada satu menu dengan nama unik yaitu "Kamar Bola" penasaran dong bentuk dan rasanya kayak apa (dan jujur saya juga belum pernah nyobain kuliner ini)

Dan akhirnya memesan satu porsi bestik lidah dan satu porsi kamar bola, dan ketika pesanan kami datang, kami berdua hanya berkomentar

"Oh ini...."

Dan teman saya menambahkan

"Namanya nge hits yak."

Saya hanya ketawa ngakak mendengarnya.

Btw yang penasaran dengan kuliner ini, wajib datang ke Solo dan nyobain sendiri makanannya :D



Friday, 5 April 2013

[Obrolan Dapur] Kisah Tahu Aci

Pada jaman dahulu kala, saya pernah main ke rumah teman saya di Slawi dan disana saya disuguhi salah satu makanan khas daerah Slawi (dan sekitarnya) yaitu tahu aci. Makanan biasa yang bisa ditemui setiap harinya di daerah tersebut, tapi entah kenapa bikin nagih kalau saya bilang.

Hingga akhirnya ketika kemarin teman saya yang dari Tegal bilang

"Mas, aku mau main ke Solo, minta dibawain oleh-oleh apa?"

Tanpa berpikir panjang saya langsung berkata

"Bawain tahu aci aja deh."

Udah lama banget ndak makan tahu aci, rasanya udah kayak perempuan nyidam dah :))

Ketika akhirnya teman saya tiba di Solo, beneran dibawain tahu aci. Bayangan saya sih ya dibawain berapa biji gitu lah ya. Eh nggak taunya sampai dua besek (wadah makanan yang terbuat dari anyaman bambu). Udah gitu ternyata tahunya masih mentah dan adonan acinya dibungkus terpisah. Trus kalau di hitung-hitung jumlahnya ada 100 biji. Nah lho?

Saya suka (pake banget) dengan segala macem gorengan, apalagi tahu (segala macam jenis tahu dari tahu biasa, tahu isi sayuran, tahu bakso, dll, dll). Tapi kalau segitu banyaknya ya... gimana yah??? *garuk-garuk kepala*

Udah gitu orang rumah nggak seheboh saya dalam menghadapi serangan tahu aci ini *halah bahasanya*. Kemarin sempat juga goreng banyak trus dibawa ke sekolah buat dibagi ke temen-temen, tapi koq ya teteup aja masih ada banyak.

Ndak ada yang terlalu istimewa sebenarnya dari sebuah tahu aci. Hanya tahu biasa yang bertekstur kenyal (bukan yang bertekstur lembut) yang di oles dengan adonan aci dengan bumbu bawang, merica dan cincangan daun seledri serta daun bawang.

Tapi koq ya ngangenin yah???

Monday, 11 March 2013

[Obrolan Dapur] Tango Crunch Cake


Saya termasuk penggemar dari wafer Tango, saya suka dengan variasi rasanya yang legit  (my personal fave would be Tiramisu dan Vanilla) dengan bentuknya yang kecil, cocok sebagai camilan teman minum teh atau kopi di sore hari. 

Akhir-akhir ini saya sering ngeliat iklan varian baru dari Tango berupa Tango Crunch Cake, penasaran dong kayak apa bentuk dan rasanya. Kalau bentuk sih bisa diliat di iklan itu yah? Hehehe

Anyway, kemarin akhirnya beli juga snack ini di salah-satu-mini-market-yang-banyak-ditemui-di-pinggir-jalan (saking nggak mau sebut nama mini marketnya :p). Kesan pertama tampilannya cukup mewah untuk sebuah camilan, apalagi yang harganya cuma RP 7.500,-

Terbungkus dalam dus berwarna coklat. dan ketika kita buka masih ada bungkusan berupa plastik timah berwarna kuning yang membungkus 4 buah crunch cake di dalamnya. Penasaran dengan jargon kelezatan cake terpadu dengan kerenyahan wafer, ternyata crunch cake yang dimaksud berupa wafer yang berlapis cokelat yang dipotong bentuk segitiga seperti cake yang pada bagian atasnya disiram dengan dark chocolate dan dihias dengan white chocolate.

Untuk rasanya, I would say that I'm pleased with this snack, kelegitan wafer dan cokelatnya terpadu sempurna membuat snacking time is a fun time. 

Saya rasa apa yang dilakukan oleh Tango ini merupakan sebuah cara pemasaran yang cukup efektif. Camilan berlapis cokelat leleh bisa dengan mudah kita temukan, ada banyak pesaing yang bahkan sudah lebih dahulu ada di pasaran. Namun dengan pengemasan yang apik, tampilan yang cantik dan rasa yang terus dipertahankan membuat Tango Crunch Cake menjadi penganan baru untuk kita. Satu harapan saya, semoga mereka membuat varian rasa yang lain selain cokelat :D

Happy snacking

Tuesday, 15 January 2013

[Obrolan Dapur] Perawatan Wajah


Untuk menjaga keakuratan dan sebagai bentuk tanggung jawab saya terhadap postingan di Pwon Ndeso, maka resep dan tips yang ada di Pawon Ndeso saya coba terlebih dahulu, termasuk tips yang terakhir mengenai manfaat ampas kopi untuk masker wajah *sighs

Selama ini saya belum pernah melakukan perawatan dengan menggunakan masker. Baik masker alami maupun masker buatan pabrik. Masker dengan ampas kopi merupakan pertama kalinya saya maskeran #Ciyus #MieGoreng4Mangkok.

Thursday, 10 January 2013

[Obrolan Dapur] Tahun Baru, Tampilan Baru


Alhamdulillah tahun ini Pawon Ndeso sudah memasuki tahun ketiga (postingan pertama tertanggal 21 Maret 2011). Perjalanan yang cukup panjang, namun belum banyak yang bisa saya berikan disini. 

Memasuki tahun ketiga ini saya melakukan beberapa perubahan. Yang pertama adalah penggatian theme, lebih sederhana namun lebih mudah dan lebih enak dipandang mata. Saya juga menghilangkan beberapa widget yang sebelumnya ada agar tidak terkesan penuh.

Saya menambahkan beberapa navigasi tambahan untuk mempermudah anda dalam mengakses artikel di Pawon Ndeso. Kalau sebelumnya hanya ada kategori/label Resep, Review, Tips, Obrolan Dapur dan Herbal. Sekarang saya menambahkan beberapa sub kategori/label. 

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes